
Kalau Sean Gelael berulang tahun ke-29 pada 1 November 2025, maka ayahandanya Ricardo Gelael ulang tahun pada 73 hari kemudian, tepatnya pada Selasa 13 Januari 2026.
Sean tahun 2025 ini melakoni tiga jenis balapan – Le Mans Asia Series, GT Dunia Eropa (GTWCE) dan FIA WEC – sedangkan Ricardo adalah juara nasional reli mobil pada tahun 2000-an dan hingga kini masih selalu mengikuti dan mengamati kegiatan reli mobil.
Ricardo Gelael pada 13 Januari 2026 berusia 67 tahun. Pada HUT ke-66 tahun lalu (2025), Ricardo bersama Sean Gelael dan Ibu Rini Gelael melakoni hari ulang tahunnya dengan melaksanakan ibadah Umroh di Tanah Suci Makkah Almukarromah.
Dua hari sebelum hari ulang tahunnya, penulis menghubungi Ricardo untuk menanyakan sesuatu sembari mengucapkan selamat ulang tahun lebih awal.
Ricardo Gelael bersama keluarga mengingati hari ulang tahunnya secara sederhana pada Senin tengah malam. (ig sean)
“Terima kasih,” jawab Ricardo melalui layanan Whattsapp.
Catatan ulang tahun Ricardo ini merupakan replika tulisan saya tahun lalu, dengan meminta izin pada Ricardo. Alasannya, komentarnya ini amat sarat dengan falsafah tentang kehidupan, sehingga tetap relevan dibaca kapan pun.
Ricardo Gelael, seperti juga puteranya atlet profesional Sean Gelael, adalah “man makes news”, apa pun yang dilakukan atau diucapkan mereka pasti akan menjadi berita, karena mereka merupakan figur publik bahkan menjadi idola bagi kalangan tertentu.
Ricardo sudah melakoni perjalanan panjang kehidupan, merasakan pahit getir dan manisnya persahabatan, berpengalaman dalam mengatur roda bisnisnya serta dapat memahami berbagai karakter orang di lingkungannya, termasuk tentu saja para karyawannya.
Ricardo Gelael bersama Sean Gelael dan ibunda Rini Gelael menunaikan ibadah umroh bertepatan dengan hari ulang tahun Ricardo tahun lalu. (sean)
Moto Hidup
Apa moto hidup Pak Ricardo memasuki usia baru? Pertanyaan universal ini diajukan beberapa hari sebelum ia berulang tahun, dua tahun lalu, namun terasa tetap relevan hingga saat ini.
Jangan pernah berhenti mendengar, dan kesombongan awal dari keruntuhan.
Kejujuran dan loyalitas tidak ada sekolahnya.
Inilah inti dari sosialisasi kehidupan bermasyarakat Ricardo hingga memasuki usia 67 tahun.
Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi di tengah masyarakat, hakekat manusia selayaknya mau mendengar kata orang alias tidak mau menang sendiri, jangan sombong karena intinya derajat atau fitrah manusia itu sama dan yang terpenting harus jujur dan loyal.
Menarik sekali Pak Ricardo. Kemudian, apakah semboyan atau filosofi hidup Pak Ricardo?
Jawabannya amat inspiratif dan senada dengan komentar pada ulang tahun sebelumnya.
Semboyan hidup saya : “Never die, keep on working. No luck without hard work.”
Orang sukses tidak akan berdiam diri seperti orang mati, melainkan harus tetap bergerak dan harus terus bekerja dan berkarya. Tidak ada keberuntungan tanpa dilakoni dengan bekerja keras.
Setiap Sean Gelael ulang tahun, ayahanda Ricardo memberi nasihat senada, yaitu: Jangan pernah berhenti mendengar dan jauhkan kesombongan.
“Terus belajar dan tampil penuh rasa percaya diri”
Nasihat si ayah ini sepertinya amat membekas dalam pikiran Sean Gelael, yang masih terus menekuni karirnya dalam dunia balap membalap dan tahun ini bergabung kembali dengan tim WET, setelah tahun lalu bersama tim McLaren Automotive United Autosports di laga FIA WEC.
Sean pernah menulis dalam medsosnya tentang kata jangan berhenti mendengar, terus belajar dan tampil penuh rasa percaya diri itu. Itu kata-kata ayahnya.
“Kesuksesan dan kegagalan proses yang jalan beriringan dalam hidup. Sukses adalah proses, bukan tujuan. Percaya pada diri sendiri kalau kita bisa dan mampu. Proses juga adalah hasil. Kita hargai sebuah proses, karena ada pembelajaran yang berguna di masa depan.”
Sean bersama orangtua tercinta, Ricardo dan Rini Gelael. (jagonya ayam)
Tentang kekayaan
Nah, apa pendapat Ricardo Gelael tentang harta kekayaan?
Harta hanya merupakan angka idaman yang tidak pernah cukup. Kekayaan bukanlah mencari uang sebanyak mungkin, tetapi bagaimana membelanjakannya dengan layak, kata Ricardo.
Membelanjakannya dengan layak? Ya, kalimat ini jarang terdengar dari mulut siapa pun. Tapi kata-kata itu dengan jelas diungkapkan Ricardo, pengusaha dan pemilik Tim Jagonya Ayam Indonesia, yang mendukung penampilan Sean Gelael di ajang laga internasional.
Pak Ricardo, apa sebenarnya yang tersirat di balik kalimat tersurat itu?
“Kenyataan yang saya rasakan dan umumnya dialami semua orang di mana pun, ada tiga hal yang tidak bisa Anda beli dalam hidup ini,” katanya.
“Apa tiga hal yang tidak bisa dibeli itu Pak?”
“Kesehatan, waktu dan teman baik. Jadi kalau Anda punya ketiga hal itu, Anda adalah orang paling bahagia dan kaya,” kata Ricardo, yang lahir di Jakarta, 13 Januari 1959.
Ricardo menyadari ia memiliki ketiga hal itu – dan mengetahui banyak orang yang tidak memiliki salah satunya – sehingga ia sadar betapa pentingnya mempertahankan ketiga hal itu dalam perjalanan hidup.
Masih ikut reli mobil?
Nah, ini yang banyak ingin diketahui para pendukungnya mau pun atlet dan tokoh otomotif di Tanah Air.
Dalam memasuki usia senja, Ricardo tetap lekat dengan hobinya, sehingga ikut tampil dalam kejuaraan nasional reli mobil di Danau Toba, Desember 2021, dan finis di urutan ke-10. Sean tampil sebagai juara nasional 2021.
Ricardo dan Sean pada kejuaraan reli 2023 masing-masing mengendarai Hyundai i20 N tipe Rally 2 pada kejuaraan final APRC Danau Toba 2023 yang berlangsung di kawasan Parapat, Danau Toba, 24-26 Movember 2023.
Ricardo Gelael dan Sean Gelae, sama-sama juara reli mobil nasional.
Sean Gelael dan Hugo Magalhaes menang meyakinkan pada APRC Asia Rally Cup 2023 24 September 2023 dan Ricardo bersama Gabbriel Morales finis di peringkat 10.
“Apakah Bapak akan tampil pada kejuaraan reli 2024?,” demikian ditanyakan.
“Kayaknya nggak,” kata Ricardo singkat. Itu pertanyaan tahun sebelumnya. Tahun 2025 diajukan pertanyaan yang sama bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Apa jawabannya?
“Ya. Saya akan turun dalam reli nasional di Medan,” kendati niat itu batal karena waktu reli diubah ke waktu lain.
Nah, itu lah jawaban Pak Ricardo. Selain karena hobi, salah satu tujuannya, pastilah untuk meramaikan perlombaan dan menggairahkan para pereli muda yang belakangan ini semakin banyak.
Ricardo memiliki passioan besar dalam olahraga otmotif khusus reli mobil, sehingga ia pasti tidak dapat meninggalkan hobinya itu begitu saja. Ia bahkan amat antusias agar kejuaraan dunia reli (WRC) dapat berlangsung lagi di Tanah Air.
Dari sisi usia?
Banyak pereli berusia lanjut tapi masih tetap ikut membalap, di antaranya pereli dari Polandia, Sobieslaw Zasada yang ikut reli Safari dalam usia 91 tahun, mengendarai Fiesta Rally 3.
Franklin Bataille mengikuti kejuaraan reli dalam usia 75 tahun (Ypres 2021), Alainn Cusimano (Monte Caarlo 2020) pada usia 70 tahun, Walter Mayer (Swedia 2016) dan banyak lagi contoh lainnya.
Melihat kenyataan di atas, benar apa yang dikatanan Ricardo, bahwa usia itu hanya berupa angka-angka, di balik itu siapa pun dapat melakukan apa pun, tidak tergantung usia.
Waktu terus berjalan, cerita pun kelak berlanjut mengikuti perjalanan sejarah.
Selamat HUT Pak Ricardo. (arl)