Jakarta - Sean Gelael akan melakukan latihan (test) dI Pembrey, Wales, sebelum berlaga pada putaran kedua Kejuaraan FIA Formula 3 Eropa di Sirkuit Silverstone, Inggris, 13-14 April mendatang.
“Kalau pada putaran pertama di Monza, Italia, ada test sebelum latihan resmi, maka di Silverstone langsung latihan resmi sebelum melakukan sesi penyisihan (kualifikasi). Jadi Sean akan test dulu di Pembrey seminggu sebelum lomba,” kata Ricardo Gelael, ayah pebalap remaja Sean, ketika berbincang dengan wartawan di Jakarta, Kamis.
Pada acara Jumat (12/4) di Silverstone, akan diadakan “free practice” pertama dan kedua masing-masing 40 menit, dilanjutkan dengan babak kualifikasi selama 20 menit, sedangkan Sabtu Minggu ditentukan posisi start untuk Race pertama, kedua dan ketiga.
Sebanyak 30 pebalap dari 12 tim tampil dalam kejuaraan F3 Eropa 2013, di antaranya sudah berkali-kali tampil dalam kejuaraan Formula 3 dengan usia rata-rata 19-21 tahun.
Sean baru untuk pertama kalinya tampil –, tapi pebalap Indonesia yang baru berusia 16 tahun itu mampu menempatkan diri di urutan ke-14 pada Race 1, urutan ke-16 Race 2 dan urutan ke-18 pada Race 3 di Sirkuit Monza, minggu lalu.
Ke-30 pebalap itu akan berlaga di Sirkuit Silverstone dengan panjang lintasan 5, 890 km, yang digunakan untuk perlombaan Formula 1, tapi seperti halnya di Monza, baru dipakai untuk pertama kalinya untuk ajang kejuaraan F3.
Ricardo mengatakan, Sean mendapat pembelajaran luar biasa pada lomba putaran pertama di Monza dari 10 putaran yang akan berlangsung musim 2013, karena aroma perlombaan itu tidak ubahnya seperti laga Formula 1.
“Laga dan persiapan di belakang layar luar biasa. Untuk tim Double R Racing saja ada 12 orang yang bekerja di depan komputer mereka ketika para pebalap lagi adu kecepatan. Mereka dapat mengetahui data seketika tentang hal sekecil apapun yang terjadi pada kendaraan mereka ketika sedang melaju,” kata mantan pereli nasional itu.
Ia menambahkan, para mekanik itu dapat melakukan analisis seketika, seperti waktu (time) ketika angkat rem, RPM ketika menikung, waktu yang diperlukan agar sayap kendaraan dapat bekerja (down-force) dan pada kecepatan berapa, apa yang harus dilakukan dari satu “corner” ke “corner” lain, bagaimana karakter lintasan dan ban, dan sebagainya.
“Saya melihat lomba F3 itu sudah seperti F1, bukan cara nyetirnya, tapi cara balapannya mulai dari belakang layar hingga ke lintasan. Kecanggihan mekanik menjadi salah satu penentu dalam perlombaan itu dan persaingannya amat ketat,” kata Ricardo.
Sean yang merupakan satu-satunya peserta dari Asia, mendapat perhatian dalam perlombaan itu, selain sebagai peserta termuda dan pertama kali tampil, ia juga dapat beradaptasi dengan cepat dengan lingkungannya.
“Musim ini Sean dalam taraf pembelajaran, jadi saya kira tim belum memperhitungkan apakah ia dapat poin atau tidak. Saya senang ia mendapat dukungan kuat sebagai wakil Asia, baik dari pihak tim maupun pemasok mesin Dallara, Mercedes,” kata Ricardo. (ARL)