Macau, 11/11 –Setelah menjalani semua perlombaan mendebarkan pada musim Kejuaraan Formula 3 Eropa 2013, pebalap berbakat Indonesia Sean Gelael tampil pada lomba terbesar akhir tahun ini: Macau Grand Prix.
Setiap tahun, para pebalap top Formula 3 dari berbagai belahan dunia akan berkumpul di seberang jalan dekat terminal feri Macau, untuk adu kepiawaian dalam balapan jalan raya yang dianggap sebagai salah satu kawasan lomba terindah di dunia.
Sirkuit itu memang belum berubah sejak pertama kali digunakan pada Macau Grand Prix1954, tetapi sekelilingnya sudah berubah sejalan dengan kencangnya kemajuan jaman di kota itu yang dari waktu ke waktu terus berkembang.
Sejak menyelesaikan musim balap 2013, Sean punya waktu untuk merayakan hari ulang tahunnya ke-17 di Jakarta bersama keluarga dan rekan-rekannya, tetapi ia tidak dapat terlalu lama berleha-leha, karena kalender lomba F3 musim mendatang sudah menanti.
Gelael merupakan 10 pebalap “rookie” dari 28 yang terpilih tampil di Macau GP, dan yang paling utama ia akan berusaha tampil bagus bersama tim Double R Racing Dallara-Mercedes pada latihan pertama dan sesi kualifikasi pada Kamis 14 November. Ia harus menimba pengetahuan dan pengalaman secepat mungkin di lintasan itu menjelang latihan dan kualifikasi pada Jumat 15 November.
Hasil latihan itu akan menentukan pada penentuan posisi grid pada kualifikasi Sabtu 16 November dan hasil ini akan menentukan pula pada awal final lomba Macau Grand Prix Minggu 17 November. Bila seorang pebalap mengalami masalah pada awal kualifikasi, maka ia akan berada di urutan belakang pada perlombaan Minggu.
Tim Prinsipal Double R Racing yang juga teknisi Sean, Anthony ‘Boyo’ Hieatt, yang menangani kendaraan putra Ricardo Gelael itu, pernah menang pada perlombaan Macau Grand Prix, ketika ia menjadi bos pebalap Jepang Takuma Sato; dan pada 2006 saat ia menjadi bos dan teknisi Mike Conway.
“Kami beruntung sudah mengetahui banyak hal tentang Macau dan dalam simulai Sean melakukannya dengan ajeg,” kata Hieatt, “Tapi bila ada kejutan maka pebalap bisa membentuk tembok. Berlomba di Macau seperti adu cepat dalam terowongan, sehingga pebalap harus fokus dan membalap dengan rasa percaya diri tinggi.”
Sebagai persiapan ke Macau, Hieatt menyatakan bahwa Sean, serta teman setimnya Antonio Giovinazzi, Kevin Korjus dan Sun Zheng, sudah menjalani simulasi. Mereka memiliki model sirkuit itu di Woking, tidak jauh dari tempat tim F1 McLaren, yang dikenal dengan nama Circuit Familiarisation Tool.
“Mobil dan model sirkuit amat sama,” kata Hieatt, “Kita melihat ini amat penting bagi pebalap dan tim teknis, agar mereka dapat membicarakan titik pergantian gigi. Misalnya, secara normal mereka mengganti gigi pada ketinggian 6300rpm pada kendaraan Formula, tapi di beberapa titik di Macau mereka mungkin butuh 7000rpm.
“Pebalap sudah melakukan simulasi dua hari, jadi mereka sudah mempelajari berbagai hal termasuk tikungannya. Teknisi Double R memberi waktu 45 menit bagi pebalap untuk melakoni latihan dan kemudian mengulang lagi dari nol,” katanya.
“Pebalap pasti kelabakan melakukan pekerjaan mereka tetapi itu membuat mereka konsentrasi,” kata Hiett sembari tertawa, “Bila mereka tidak mampu konsentrasi, maka mereka tidak akan dapat berbuat banyak pada balapan nanti.”
Apa yang akan terjadi pada Sean? Ia akan dapat mencapai finis dengan tidak banyak drama. “Bila ia dapat masuk 10 besar, dan saya kira dapat, maka ia memiliki minggu yang menarik dan saya akan sangat gembira. (ms/arl)