Rehat, Test dan Lomba Lagi
Oleh : A. R. Loebis

Jakarta, 23/12 – Seorang atlet profesional harus siap berlaga kapan saja dan dimana saja. Ia hanya rehat sebentar,  setelah itu latihan lagi, test lagi dan bertanding.  Itulah yang dijalani pebalap profesional Sean Gelael yang baru menginjak usia 17 tahun. 

Usai berlomba pada musim 2013, - dalam 10 putaran Kejuaraan FIA F3 Eropa, empat putaran F3 Inggris, satu lomba Master F3 di Belanda serta Kejuaraan F3 Macau November, maka Sean sudah bertarung dalam 46 race.

Pada Desember 2013 ia melakoni dua kali test musim dingin di Jerez dan Valencia, kemudian pada 19-20 April 2014 memulai lomba F3 Eropa di Silverstone. Lomba itu diawali test pada 4-5 April di Budapest. Menyelingi lomba lainnya, pada 8-9 Sean kembali menjalani test di Austria dan pada 7-9 Oktober di Imola, Italia.

Pada musim 2014, pebalap yang mengenal dunia otomotif melalui debutnya sebagai navigator reli mobil dan meningkat ke kejuaraan karting nasional, Asia dan Eropa, akan menjalani masa-masa lebih mendebarkan dalam mengikuti 11 putaran Kejuaraan FIA Eropa, empat lomba British F3, satu kejuaraan F3 Master di Zandvoort dan satu kejuaraan Macau GP pada akhir tahun. 

Sean akan melakoni sekitar 53 race pada 2014. Ia akan bekerja keras. Ini hanya dapat dilakukan seorang atlet profesional sejati. Dalam satu tahun hanya ada 48 minggu,  maka bila Sean berlomba satu race dalam satu minggu maka dalam satu tahun tidak cukup untuk menampung perlombaan yang dijalani anak muda itu. Untung dalam tiap putaran lomba ada tiga race. Tapi kegiatannya untuk bergerak adu kecepatan di lintasan balap di berbagai negara Eropa itu amat padat. 

Ayahanda Sean, Ricardo Gelael, kewalahan mengikuti kegiatan anaknya sehari-hari. 

Mantan pebalap nasional itu menceritakan, para pendamping Sean baik dari sisi teknis dan non-teknis terus mendampinginya, bahkan hingga ia beranjak masuk ke kamar tidur. 

Pagi hari, coachnya sudah masuk dapur hotel untuk mencek makanan di dapur. “Makanan Sean harus diperhatikan. Jangan sampai ada yang menyalahi aturan asupan makannya, apalagi menjelang perlombaan,” katanya. 

“Kalau sudah balapan maka ia hanya dikasi minuman khusus, sesuai dengan cek medis yang sesuai untuk dia,” tambah Kadok, panggilan akrab temen-teman bagi Ricardo. 

Ia memberi contoh, pernah suatu ketika Sean menyiarkan gambar dalam Twitternya beberapa hamburger di depannya. Para pendukungnya di luar negeri memberikan reaksi hebat, karena bagi mereka makanan itu akan mempengaruhinya kondisi fisik pada perlombaan. Tapi “fans” dalam negeri tidak ada yang memberikan respons negatif.  Ini menunjukkan berbedanya tingkat kedisiplinan dalam menyantap makanan. 

Sean Gelael sendiri biasanya bangun pukul 06.00 pagi, kemudian minum air putih dan berlari sekitar  enam kilometer. Kemudian ia mandi sekitar pukul 07.00 dan sarapan pagi ditunggui coachnya dan mengawasi makanannya. “Kemudian jam delapan dibawa naik mobil ke sirkuit,” kata Ricardo. 

“Tempat saya dan dia berbeda di trek. Kami tidak boleh bertemu dengan bebas. Biasanya ada waktu sekitar 15 menit untuk bertemu dengan teman dan keluarga. Bahkan beda pula tempat mekanik. Semua ditata sedemikian rupa dengan amat disiplin,” tuturnya. 

Dalam tiga race terakhir musim lalu, Sean didampingi pelatih fisik Nick Furgus, sedangkan manajernya tetap Piers Hannisett dan race-coach Marco Asmer sedangkan enjiniernya James yang pernah menata perlombaan Ayrton Senna dan menangani tim Williams selama 10 tahun. “Wing-men Sean juga diganti,” kata Ricardo.  

“Mereka bersama-sama menganalisis melalui data, mengapa Sean baik di sirkuit yang satu tapi ada masalah di tempat lain.  Kondisi pagi, siang, cuaca, ban, angin, temperatur dan berbagai hal lainnya menjadi input dan output pada data komputer mereka,” kata Ricardo. 

 

Mengalami transformasi

Sean mengalami semacam “transformasi” karakter – secara teknis dan non-teknis – serta tingkat disiplinnya tertempa dengan sendirinya, setelah selama satu musim berkecimpung dalam ajang kompetisi F3 Eropa.  Ia berteman dengan komunitas khusus di luar lapangan, kendati saling bersaing di lintasan. 

“Saya tidak bisa mengikutinya lagi. Kalau saya tanya apa yang salah, ia akan menjawab lihat data aja di komputer. Kita tidak bisa lagi bertanya secara umum, misalnya berapa kecepatan tertinggi kendaraannya. Karena mobil itu sudah ada spesifikasinya,” kata Ricardo.  

“Jadi, kecepatan maksimum atau minimum di tikungan agar dapat ‘down-force’ yang tepat, itu yang diperhitungkan. Saya dulu lomba hanya tingkat nasional, jadi beda sekali rasanya. Saya melihat ada sesuatu yang luar biasa, khususnya dari segi disiplin diri,” ungkap pengusaha itu. 

“Tapi bila sudah selesai balap dan pulang ke Jakarta, ia kembali seperti anak-anak seusianya. Ketika balik lagi ke habitat balap di Eropa, ia berubah 100 persen,” kata Ricardo sembari menjelaskan, pada Desember 2013 Sean kembali masuk sekolah di Jakarta. 

“Ia akan menjalani libur panjang usai sekolah di Jakarta, karena sekitar September 2014 baru masuk sekolah lagi. Ia merencanakan akan kuliah di BATA University di Inggris dan mulai Maret ia direncanakan akan pindah ke London,” kata Ricardo tentang putera semata wayang itu. 

Sean “Si Jangkung” Gelael itu kini memasuki musim kedua di ajang lomba Formula 3 Eropa dan hasil permainannya setahun ini akan menentukan perjalanan karirnya dalam usaha menapak ke jenjang yang lebih tinggi, GP3 dan kemudian GP2, sebelum ke tangga lomba jet darat sebagai ajang tertinggi di planet ini: Formula Satu (F1). 

“Selama satu musim sebagai pengenalan atas kendaraan dan pembelajaran karakter sirkuit. Itu masa adaptasi segala sesuatu tentang F3 baginya. Pada musim kedua ia mulai berusaha meningkatkan performanya,” kata Ricardo.

Pebalap Indonesia saat ini yang ada di atas level Sean adalah Rio Haryanto, yang berlaga di jenjang GP2, sedangkan di bawah level Sean cukup banyak pebalap berbakat yang lahir, seperti Andhika Sasabone, Andersen Martono, Darma MH, Senna “King” Iriawan dan yang lainnya. 

Mereka kini sedang menapak di jenjang lomba Formula Piala Asia (BMW) serta Piala Masters, sebelum akhirnya mengikuti lomba jenis Formula Reynolds, Formula Pilota  dan setelah itu menjelajah ke jenjang F3. 

Tapi jangan salah, di planet ini ada ratusan bahkan mungkin ribuan calon pebalap sedang adu kepiawaian untuk dapat lolos ke ajang lomba F1, -- dengan segala dinamika yang mereka alami -- termasuk beberapa di antaranya dari Asia dan tentu saja Indonesia. 

Sejarah akan menorehkan tinta emas,  bila suatu saat ada seorang pemuda Indonesia yang berlaga untuk pertama kalinya di ajang Formula Satu.  

Kalau PP Ikatan Motor Indonesia (IMI)  melalui kampanye ketuanya Nanan Soekarna (saat menjadi calon ketua, 2011) menyatakan targetnya membawa F1 ke Indonesia sepertinya “jauh panggang dari api”, maka setidaknya diharapkan akan ada pebalap Indonesia yang tampil mengharumkan Merah Putih di ajang F1. 

We wait  and see! 

 

share :
Berita Dilihat Sebanyak 2804 kali
Berita Lainnya

Foto
Fia WEC
13/07/2026
» Rolex 6 Hours Of Sao Paulo FIA WEC 2026
- Interlagos, Brasil