Ketika menerima penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai co-driver termuda di Indonesia – bahkan dunia – saat berusia 10 tahun tujuh bulan 21 hari (22/6-2007), ia masih amat pemalu, apalagi bila berhadapan dengan media.
Ketika itu ia selalu berpaling dan dengan kukuk meminta orang yang paling dekat dengannya untuk menjawab pertanyaan rekan-rekan wartawan.
Sekarang ia sudah berusia 17 tahun pada 1 November 2013, tangkas menjawab pertanyaan dan kelihatan memiliki karakter kuat.
Tak mengherankan, karena ia melakoni hidupnya dalam tiga-empat tahun ini di perlombaan otomotif internasional, saling adu cepat dengan lawan Eropa di lintasan dan bersahabat dengan mereka di luar lintasan.
Setelah melalui perjalanan panjang lomba karting di tingkat nasional dan Asia (ia juara nasional dan Asia), ia melanglangbuana ke perlombaan Eropa, sampai akhirnya meningkat ke jenjang Formula Pilota China (juara dua Asia) dan meningkat lagi ke kancah laga Formula 3 Eropa.
Pemuda bernama lengkap Muhamad Sean Ricardo Gelael,-- selalu disebut dengan nama Sean Gelael dan akrab dengan sapaan Sean --, lahir di Jakarta, 1 November 1996, kini sudah menjadi pembalap internasional dengan membawa nama Indonesia ke berbagai sirkuit.
Berarti dalam perjalanan balapnya ia tetap membawa Merah Putih, Garuda dan tentu saja Indonesia Raya.
Sean boleh saja disebut sebaga anak baru gede (ABG), tapi putera pengusaha dan mantan
pebalap Ricardo Gelael dan ibu mantan aktris RA Sri Sudarini (Rini S Bono) itu sudah membuktikan ia bukan anak baru gede biasa, ketika pada 12/2012 menjuarai Asian Karting Open Championship 2010 di Makau.
Gelar itu memantapkannya sebagai harapan baru Indonesia di ajang gokar Asia dan dunia. Pada tahun ini pula, remaja yang ketika itu masih berusia 14 tahun tampil sebagai juara pada Indonesian National Karting Championship.
Prestasi Sean membawanya menjadi bintang baru bagi dunia gokar Indonesia. "With a pray, I will try to fight and work hard in the next championship series. Saya akan terus berusaha keras saja," tuturnya pada acara syukuran kesuksesannya di Jakarta, Jumat (17/12).
Ya, gelar demi gelar memantapkan Sean terus berlaga di arena sirkuit. Ia pun sudah bersiap berjibaku pada kejuaraan-kejuaraan karting di Eropa. Pada 2011, ia mengikuti sedikitnya 11 kejuaraan gokar di enam negara, di Italia, Prancis, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, dan Makau.
Dengan bermodal gelar juara yang telah diraihnya,Sean optimistis bakal membawa nama Indonesia untuk bertarung dengan sederet pembalap dunia lainnya.
Co-driver termuda itu seperti pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitu pula perkenalan Sean dengan dunia balap. Itu berawal saat Sean kecil menginjak usia dua tahun, ia mulai menyukai mobil-mobilan.
Ricardo ketika masih aktif sebagai pereli nasional (juara nasional 2006) sering mengajak Sean menemani tampil di berbagai kejuaraan. Saat di Medan, Sumatra Utara, misalnya, Ricardo sengaja membawa Sean untuk sekadar melihat-lihat arena dan suasana perlombaan.
Alhasil, saat usia delapan tahun, Sean sudah mulai menjadi navigator cilik. Di usia 10 tahun, ia pun sudah mampu menjadi profesional. Hal itulah yang membuat Sean mendapatkan penghargaan sebagai awak pengemudi termuda dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).
Setahun berselang, ia kembali meraih penghargaan Muri kedua sebagai co-driver termuda pada Indonesian National Rally Championship 2008.
Antara sekolah dan balap dalam meniti karir di usia belia tidaklah mudah bagi Sean. Ia harus pandai membagi waktu antara sekolah dan ambisinya sebagai pembalap.
Pada musim lomba FIA F3 Eropa 2013 ia beberapa kali pulang untuk mengikuti sekolahnya. Ketika usai musim lomba 2013, ia pun kembali masuk sekolah. “Ia sibuk sekali melanjutkan pelajaran sekolahnya,” kata Ricardo mengomentari kesibukan putra semata wayang yang sekolah di Cita Buana, Jakarta itu.
Di antara 30 pebalap Eropa yang bertarung pada Kejuaraan FIA Formula 3 Eropa 2013, Sean merupakan satu-satunya pebalap dari Asia. Ia juga pebalap paling muda. Ia juga pebalap yang baru pertama kali mencicipi semua lintasan balap, sementara yang lain sudah beberapa kali tampil di sirkuit itu bahkan beberapa di antaranya pernah menjadi juara.
Sean tidak main-main mengikuti balapan Eropa.. Ia mengikuti 10 putaran FIA F3 Eropa, empat putaran British FIA Internastional, kemudian ikut pula balapan Formula 3 Masters di Belanda serta kejuaraan F3 Macau, November 2013.
Kendati baru pertama kali tampil, ia sudah naik podium tiga di ajang British F3 (rekor pebalap F3 termuda naik podium) dan di urutan ke-13 pada FIA F3 Eropa. Ia mampu menunjukkan kiprahnya untuk berada di papan atas dan tengah pada musim pertama pada kejuaraan itu.
Bagaimana pada musim kedua (2014) di ajang lomba Eropa itu?
Sean pasti kembali menunjukkan karakternya. Ia bertekad menunjukkan bahwa ada anak Indonesia yang mampu berkarir di tingkat internasional. Ia pun berusaha menjadi pebalap pertama Indonesia yang mengikuti ajang lomba Formula Satu. Ia memiliki misi dan visi. Ia sudah menentukan perjalanan hidupnya. Ia memiliki kepribadian.
Ketika Ikatan Motor Indonesia (IMI) sempat berkoar-koar ingin membawa sirkus Formula Satu ke Indonesia – bahkan sebagai kampanye untuk menembus kursi struktural organisasi – ternyata ada pemuda bangsa yang diam-diam ingin medahului mereka menuju lintasan dunia itu.
Siapa yang tak bangga dengan generasi muda ini? Tetap pupuk semangatmu Sean. Selamat Hari Ulang Tahun ke-17. (Catatan : A.R. Loebis)