Sean Gelael 23 Tahun : Kerja Keras, Bijak Dan Sabar Catatan : A.R. Loebis



SEANGP.com
(Jakarta) – “Dengan bertambahnya usia, saya terus memotivasi diri untuk bekerja keras dan tidak mudah menyerah hingga apa yang saya cita-citakan tercapai.”

Pebalap nasional Sean Gelael mengucapkan hal itu ketika ditanya apa kesan dan   filosofi hidupnya memasuki usia 23 tahun pada 1 November 2019.

“Champions keep playing until they get it right,” kata Sean yang sudah mulai membalap di lintasan lomba sejak ia berusia delapan tahun.

“Apa lagi yang Sean rasakan memasuki usia 23 tahun ini?”

“Tidak mudah berpuas diri dengan apa yang sudah diraih. Saya terus berusaha dan bekerja keras meraih hasil yang terbaik. Dengan bertambah usia dan pengalaman, tentunya mengambil keputusan dengan lebih bijak dan sabar,” kata Sean.

Sebenarnya Sean tidak saja bijak, tetapi sebagai seorang pebalap ia cukup tegas, ditandai ketika memberi sinyal kurang akuratnya aturan panitia yang membuat ia mundur dari salah satu balapan yang diikutinya pada musim 2019 ini.

Sean Gelael mundur dari balapan F2 di Silverstone, Inggris, sebagai bentuk respons atas keputusan penyelenggara balapan yang kerap kali merugikan pebalap Indonesia itu.

Ia mendapat perlakuan hukuman berlebihan dari steward balapan setelah terjadi insiden di free practice laga minggu kedua Juli 2019.

Pebalap tim Pertamina Prema Racing itu sedang melakukan “hot lap”,  tapi lajunya terhadang oleh Louis Deletraz di tikungan enam. Karena sedang melaju kencang, Sean berhak untuk tetap tancap gas, dan mestinya justru Deletraz yang sedang melakukan slow lap memberi jalan.

Sean maupun Deletraz dipanggil steward yang menilai adanya insiden. Saat menanti proses, pihak Deletraz dan tim Carlin meminta maaf  kepada Sean dan tim Prema Racing. Sean dan tim merima permohonan maaf itu dengan baik.

Tapi Sean dan Tim Pertamina Prema Racing dikejutkan dengan keputusan steward, yang menganggap pebalap Indonesia yang didukung Jagonya Ayam KFC Indonesia itu bersalah atas insiden itu, sehingga Sean terkena dua poin penalti dan reprimand (peringatan keras).

Akibat insiden itu mobil Sean rusak dan dia kehilangan track time signifikan yang berdampak pada hasil kualifikasinya yang P18, karena dia belum beradaptasi dengan aspal baru Silverstone. Itu saja sesungguhnya sudah “penalti” tersendiri buat Sean dan tim.

Tap kekecewaan bertahmbah, karena Sean mendapat tambahan penalti mundur tiga grid pada balapan.  Alasannya, setelah mempelajari video lebih seksama Sean dianggap benar-benar membuat kesalahan karena salah mengantisipasi tikungan.

Atas sanksi ini, Sean mengambil sikap untuk mundur dari balapan Silverstone dan pihak PREMA memahami keputusan berani yang diambil Sean.  Dalam situasi seperti yang dihadapi Sean,  keputusan itu menyiratkan sikap tegas dan berkarakter.

Sean ketika naik podium di salah satu lomba pada musim ini. (jagonya ayam)

Hingga putaran ke-11 musim laga 2019,  Sean mengoleksi 15 poin dan berada pada klasemen sementara pebalap di posisi ke-16 dan rekan setimnya Mick Schumacher di posisi ke-12 dengan simpanan 51 poin.

Pada musim lomba 2017, ketika Sean memperkuat Tim Pertamina Arden,  Sean berada di urutan ke-15 dan rekan setimnya Norman Nato di urutan kesembilan dan tim mereka di tangga ketujuh pada klasemen akhir.

Setahun kemudian, pada musim laga 2018, Sean menimba angka pada lomba yang berlangsung di Sakhir ( 6 poin), Baku City (1), Catalinya (4) dan Monaco (18).

Putera semata wayang pengusaha Ricardo dan Rini Gelael itu menuntaskan musim pertamanya bersama Prema di urutan ke-15 (29 poin).  Rekan setimnya Nyck de Vries di urutan keempat (202 poin).

Halo dan doa ibu

Selama mengikuti balapan, ada hal paling tragis yang terjadi di hadapan Sean Gelael, ketika terjadi tragedi pada balapan Formula 2 di Spa-Francorchamps,  Belgia,  pada Sabtu (31/8) yang merenggut nyawa pebalap Prancis, Anthoine Hubert.

Ini menyisakan kisah tersendiri yang tertanam dalam bawah sadar Sean Gelael.

Dalam prosesi sebelum dan saat terjadi tabrakan yang melibatkan Hubert dan Juan Manuel Correa itu,  bukan saja Sean dan Tim Jagonya Ayam, tapi Indonesia pun selayaknya bersyukur karena pebalap nasional itu terhindar dari deretan pebalap yang terlibat insiden.

Sebelum Hubert ditabrak tegak lurus oleh Correa di lintasan lurus Kemmel, Giuliano Alesi lebih dahulu tergelincir dan mengalami pecah ban di Tikungan Raidillon.

“Efek dari pecah ban itu adalah suspensi rusak dan sayap belakang mobil anak legenda F1, Jean Alesi itu patah. Nah, patahan inilah yang kemudian menerjang mobil Sean Gelael,” kata manajer media tim Jagonya Ayam, Aswin Rizal Harahap.

Sean Gelael ketika mencoba mobil F1 Toro Rosso di Amerika. (tim jagonya ayam Indonesia)

Namun piranti bernama Halo menjadi penyelamat Sean.  Alat yang dipasang di kokpit untuk melindungi kepala dan tubuh pebalap tersebut benar-benar berfungsi dalam menyelamatkan Sean.

“Patahan sayap belakang mobil Alesi melayang dan membentur Halo di mobil Sean sehingga pebalap Merah-Putih itu terhindar dari efek buruk hantaman yang tak diinginkan,” tambah Aswin.

Selain karena Halo,  ini semua pasti karena pertolongan Yang Maha Kuasa melalui doa banyak orang wabilkhusus doa dari ibunda Rini. Sejak mulai balapan saat Sean berusia delapan tahun, ibundanya selalu mengajaknya berdoa bersama memohon lindungan dari Allah swt – utamanya sebelum lomba dimulai.

Tak lama setelah itu, terjadilah tragedi di mana Hubert ditabrak Correa dan itu terjadi persis sebelum Sean melintas di Kemmel Straight. Kematian seorang sahabat di depan mata – teman seprofesi akibat kecelakaan – tentu akan lama membekas dalam diri para pebalap, termasuk Sean.

Mental seorang pebalap sudah tertempa, tidak boleh lembek, harus berjuang di luar dan di atas lintasan balap.  Ini teraplikasi pada diri dan karakter setiap pebalap, tak terkecuali Sean.

Buktinya, usai balapan yang dihentikan di Belgia, Sean sudah tampil lagi di Monza pada minggu berikutnya (8 September 2019),  kendati suasana duka masih menyelimuti paddock para pebalap. Bahkan amat fantastis, Sean yang mengantungi rekor MURI sebagai navigator reli termuda dalam usia 10 tahun,   meraih dua poin pada balapan Future.

“Saya harus tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” kata Sean usai lomba.

Sean Gelael ketika memeriahkan hari ulang tahun ayahanda Ricardo Gelael bersama ibunda Rini Gelael, di Raja Ampat. (jagonya ayam)

Pada balapan musim 2019, Sean menunjukkan karakter kuat ketika mundur dari ajang lomba dan hal fantastis terjadi ketika ia terhindar dari bencana pada kecelakaan yang amat mendebarkan.

Ia mendapat pelajaran berharga melalui pengalamannya, dengan mengatakan “jangan pernah lengah dengan keselamatan Anda.”

“”Utamakan keselamatan. Jangan pernah lengah dengan hal satu ini,” kata Sean saat membagi ilmunya di Sirkuit Sentul pada acara Pertamax Turbo Ultimate Experience Porche Series, pada minggu kedua Oktober 2019.

Pada rehat panjang laga F2 musim ini,  Sean Gelael pun merencanakan mengikuti putaran ketiga Kejurnas reli mobil di kawasan wisata Parapat, Danau Toba, Sumatera Utara,  mengendarai Citroen C3 R5, sebelum tampil pada putaran akhir F2 di Abu Dhabi akhir November.

Bagaimana kiprah Sean pada ajang lomba formula 2020?

Kita akan menantikan berita selanjutnya. Tapi yang jelas, Indonesia pada Juni 2020 akan menjadi tuan rumah kejuaraan Formula-E dan Sean Gelael diharapkan mewakili tuan rumah pada ajang laga itu.

Pada sisi lain,  seperti diharapkan bos Toro Rosso, Franz Tost,  untuk maju ke balapan F1, Sean harus kerja lebih keras,  harus hidup untuk F1 sepanjang 365 hari dalam setahun!

“Saya tidak akan pernah berpuas diri dengan apa yang sudah saya lakukan,” kata Sean Gelael, ketika dihubungi tiga hari menjelang hari ulang tahunnya.

Selamat ulang tahun ke-23 Sean Gelael.  (arl)

Berita Dilihat Sebanyak 58 kali
Berita Lainnya

Foto
Formula Renault 3.5
12/09/2015
» Formula Renault 3.5 World Series
- Nurburgring